House of Midwife

Just another WordPress.com weblog

Andaikan Janin Dapat Berbicara

Sekiranya lisan kita dapat didengar janin dalam kandungan ibu, tentulah kita dapat berbincang-bincang dengannya.

“Wahai janin, bagaimana kabarmu dan apa yang sedang engkau kerjakan?”

“Segala puji bagi Allah, aku dalam keadaan baik dan sedang menikmati tidurku dalam rahim.”

“Wahai janin, adakah dalam keseharianmu engkau hanya menikmati tidurmu?”

“Benar, tapi di samping itu aku pun tidak perlu bekerja karena semua kebutuhanku sudah dipenuhi ibu melalui tali pusat ini.”

“Wahai janin amat besarlah keberuntunganmu atas apa yang Allah anugerahkan kepadamu. Tetapi janin, kalau engkau tidak bekerja mengapa Allah memberimu tangan dan kaki. Anggota badan itu diperlukan manakala engkau bekerja bukan?”

“Benar, akupun tidak mengerti, sebab tanpa kedua tangan dan kaki ini pun tidak akan ada masalah. Kebutuhanku sudah terpenuhi oleh tali pusat ini. Untuk apa kedua tangan dan kaki ini? Lagi pula dengan keberadaan mereka akan semakin mempersempit ruangku di dalam rahim.”
“Wahai janin, sekiranya Allah Ta’ala menghapuskan tangan dan kakimu saat ini bagaimana?”

“Ku kira tak ada masalah.”

Jika sekiranya Allah kemudian benar-benar menghapus 2 tangan dan 2 kaki janin, apakah yang akan terjadi manakala janin dilahirkan di dunia ini? Alangkah kecewanya janin mendapati bahwa dunia benar-benar berbeda dengan apa ia kira, sebab dunia adalah tempat bekerja dan anggota badan memegang peranan penting di sini. Dan ketika pertama kali ia dilahirkan justru sumber rejeki yang diandal-andalkan yaitu tali pusat adalah yang pertama kali dipotong oleh bidan. Apa yang dapat dilakukan tanpa anggota badan di dunia yang luas ini? Kisah di atas adalah sebuah sebuah perumpamaan yang dapat dijadikan ibroh, mengapa manusia harus beribadah kepada-Nya, seperti mendirikan sholat, puasa di bulan Ramadhon dan lain-lain. Sering kali orang berkata: “Lihat dia yang sholatnya rajin tidak pernah naik pangkat,” atau “Lihat dia yang rajin puasanya tidak juga menjadi kaya. Bagaimana Tuhan berlaku adil terhadap hamba-Nya?” Ingatlah bahwa segala sesuatu ada masanya. Saat ini sholat kita, puasa kita dan ibadah kita yang lain ibaratkan anggota badan kita sewaktu masih janin dulu. Barangkali belum nampak manfaat dan faedahnya, lihatlah kelak di akhirat nanti, amalan-amalan kitalah yang akan menolong kita sebagaimana pertolongan anggota badan kita manakala kita berada di dunia ini.

Maret 26, 2010 - Posted by | Renungkan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: